Example floating
Example floating
Seputar Sumut

Tampil Dengan Ragi Barat Karo, Sharon Ciota Ginting Raih Silver Award Kompetisi Musik Internasional Singapore 

118
×

Tampil Dengan Ragi Barat Karo, Sharon Ciota Ginting Raih Silver Award Kompetisi Musik Internasional Singapore 

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Mejuah-juah ,Rempulima.com

Sharon Ciota Ginting (14), berhasil meraih SILVER AWARD di Kompetisi Champs Universal Music Festival (CUMF) International Singapore 2025. Acara  Grand Final kompetisi musik internasional level junior tersebut diselenggarakan di Singapore Chang Clan Association Building di Lor 29 Geylang Singapore ,Sabtu,( 20/12/ 2025)
Sharon merupakan salah satu dari 4 wakil Indonesia di kategori free selection music usia 13 – 15 tahun. Dari 4 wakil Indonesia, Sharon adalah satu-satunya putri Karo beru Ginting. Di samping itu, ada juga finalis Indonesia yang mewakili kategori 10 – 12 tahun sebanyak 3 orang, kategori 16 – 18 tahun sebanyak 2 orang, dan kategori 6 – 9 tahun sebanyak 4 orang.
Sharon bertanding di grand final free selection kategori usia 13 – 15, melawan 15 kontestan lainnya dari negara Singapore, Filipina, Malaysia dan Korea. Sebelum memasuki grand final itu Sharon melewati kualifikasi nasional dan dinyatakan lolos kualifikasi nasional yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD Tangerang Selatan pada awal Bulan November 2025 lalu.
Di grand final tersebut, Sharon memainkan lagu Over the Rainbow partitur karya Harburg Harold Arlen dalam durasi maksimal 8 menit setiap kontestan yang diikuti terlihat selalu mengenakan kain RAGI BARAT, kain khas karo, Sharon memainkan musiknya di hadapan para juri dan audiens yang datang dari beberapa negara dari Asia tenggara merasa sangat terpesona dengan pakaian khas wanita Karo yang dipakainya
Sharon sempat nervous dan tidak bisa makan sebelum performance mengingat ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi piano internasional. Namun orangtua Sharon, Esra Ginting dan Kristina br Tarigan yang ikut datang mendukung, menekankan agar Sharon tetap fokus pada apa yang sudah dilatihnya berbulan-bulan. Sharon pun tidak perlu membandingkan diri dengan finalis lainnya, karena kalau sudah grand final kompetisi internasional, semua pasti bagus, dan yang paling siap yang akan membawa trofi terbaik.
Sharon, putri Karo asal Desa Tigapanah yang kini tinggal di Jakarta, mengalunkan pianonya, dengan mengenakan dress batik dan kain Ragi Barat karo di pinggangnya, tampil _flawless_ di hadapan para juri. Juri kompetisi ada 5 orang yaitu Gilbert De Greeve (Germany), Kwan Shik Lee (Korea), Simon Soh (Singapore), Mary Jackson (Malaysia), dan Jerome Quah (Malaysia).
Komentar para juri memang sangat “pedas” kepada semua peserta. Tidak heran, mengingat para juri sangat jeli melihat setiap irama dalam partitur masing-masing yang dipilih peserta. Juri bahkan berkomentar kepada Sharon “Semua sudah bagus dengan musikalitas bagus. Tapi hati-hati penggunaan pedal grand piano harus bisa lebih baik lagi agar terdengar berkelas dinamika dan interpretasi lagu.” Ujar salah satu juri kepada Sharon.
1st Prize Gold Award diraih oleh Shen Han Yee (15 tahun) pianist junior asal Singapore. Shen Han Yee pada performancenya memang tampak sangat percaya diri dan tingkat kesulitan musiknya sudah dapat dikategorikan world wide, ujar salah satu Juri pada komentarnya.
“Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus bisa meraih Silver Award di kompetisi ini, dan sangat tidak menyangka sama sekali bisa meraih award ini karena semua grand finalisnya bagus banget. Jujur sangat tidak menyangka. Puji Tuhan.” Ujar Sharon pasca menerima Silver Award tersebut.
“Kain karo yang dipakai merupakan sebuah identitas Sharon selaku Kalak Karo, yang harus dengan bangga memperkenalkan identitasnya termasuk di kancah musik internasional level junior ini.” Ujar Bapak Sharon, Esra Ginting, yang mendampingi Sharon di Singapore.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa ada beberapa orang memang sempat menanyakan kain apa yang dikenakan tersebut, karena tidak lazim dipakai di kompetisi piano internasional. Dan dengan bangganya Sharon menyampaikan bahwa itu adalah kain tradisional dari daerahnya Karo di Sumatera Utara.
“Prestasi yang ditorehkan Sharon di kancah junior internasional tersebut diharapkan bisa memicu semangat para remaja, khususnya remaja  suku Karo, untuk terus berkreasi menggali dan memaksimalkan potensi diri. Juga diharapkan agar para remaja Karo berani mencoba dan pantang menyerah,”katanya mengakhiri perbincangan .(red/rempulima.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ikuti kami di Facebook, Youtube, X, Tiktok, Instagram, dan lainnya. Kami manayangkan informasi dan berita Update setiap hari. Bujur ras Mejuah-juah!