Mejuah-juah | REMPULIMA.COM –
Menyikapi prediksi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Karo melalui Dinas Pertanian menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara untuk menggelar sosialisasi kesiapsiagaan sektor pertanian. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Kamis (12/03/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh dalam menghadapi perubahan iklim ekstrem yang berpotensi mengancam produktivitas hasil panen. Dengan informasi berbasis data dari BMKG, para petani diharapkan tidak gagap menghadapi situasi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Michael Purba, S.T.P., M.M., menegaskan bahwa langkah antisipatif harus segera dilakukan. Pihaknya telah menerima sinyal awal terkait potensi kemarau panjang dari BMKG.
“Kita sudah mendapat informasi bahwa tahun 2026 musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung cukup lama. Karena itu, kita akan menggali sebanyak mungkin informasi meteorologi terkait kondisi iklim di Kabupaten Karo,” ujarnya di hadapan para peserta.
Michael menambahkan, pihaknya segera membentuk tim khusus untuk menyusun langkah mitigasi kekeringan. Ia juga menginstruksikan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk aktif menyebarluaskan informasi ini hingga ke tingkat kelompok tani.
“PPL agar menyampaikan ke tingkat kelompok tani, supaya petani memahami kondisi yang tidak bisa kita kendalikan ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita merespons secara positif agar pertanian tetap bertahan,” tambahnya.
Menurutnya, dampak kemarau panjang tidak hanya pada ketersediaan air, tetapi juga pada kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, petani perlu diedukasi mengenai pola tanam yang tepat, penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, serta teknik efisiensi pengelolaan air.
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Stasiun BMKG Sumatera Utara, Wahyudin, memaparkan secara detail prakiraan cuaca wilayah Sumut sepanjang 2026. Ia menyebut puncak kemarau ekstrem diprediksi terjadi pada Juni hingga Juli mendatang.
“Kami baru saja merilis prediksi musim kemarau 2026 tingkat provinsi. Diperkirakan kemarau ekstrem terjadi sekitar bulan Juni hingga Juli. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kekeringan, kekurangan air, bahkan kebakaran hutan dan lahan, sehingga perlu diantisipasi sejak sekarang,” tegasnya.
Wahyudin juga mengingatkan bahwa Kabupaten Karo termasuk wilayah rawan bencana, terutama longsor dan kekeringan. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan mutlak diperlukan.
“Kita tidak bisa memprediksi bencana secara pasti, tetapi kita memiliki data historis yang bisa menjadi acuan untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan diperkirakan akan meningkat kembali sekitar bulan November, tentunya kesigapan seluruh stekholder untuk menghadapi itu sangat diperlukan,” ungkapnya.
Sesi sosialisasi berlangsung interaktif. Para PPL yang hadir dari seluruh kecamatan di Karo antusias menyampaikan berbagai kendala di lapangan, mulai dari keterbatasan sumber air hingga ketidakpastian musim yang selama ini menyulitkan perencanaan tanam.
Dinas Pertanian Kabupaten Karo berharap, melalui kegiatan ini para penyuluh dan petani dapat lebih siap secara teknis dan mental. Dengan demikian, produksi pertanian tetap terjaga dan ketahanan pangan daerah tidak terganggu meskipun cuaca tidak bersahabat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran BMKG Sumatera Utara, pimpinan dan staf Dinas Pertanian Kabupaten Karo, serta para penyuluh pertanian se-Kabupaten Karo. (red/rempulima.com)







