Mejuah-juah | REMPULIMA.COM
Bukan menanti anggaran turun, tiga kepala desa di Kecamatan Barusjahe justru bergerak cepat. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial, Kepala Desa Barusjahe Daut Tarigan, S.P, Kepala Desa Serdang Dastanta Barus, serta Plt. Kepala Desa Penampen Rion Ginting merogoh kocek pribadi untuk memperbaiki ruas jalan penghubung Desa Serdang–Barusjahe yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga.
Perbaikan infrastruktur yang menjadi denyut nadi aktivitas masyarakat itu tidak menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD). Inisiatif ini lahir murni dari kepedulian dan tanggung jawab moral para pemimpin desa terhadap kondisi jalan yang kerap rusak parah, terutama saat musim penghujan. Akses yang buruk selama ini menghambat mobilitas petani, anak sekolah, hingga aktivitas ekonomi antarwilayah.
Namun yang membuat langkah ini istimewa, para kepala desa tidak bergerak sendiri. Masyarakat dari tiga desa bahu-membahu turun ke lokasi, mencurahkan tenaga dan waktu dalam kerja bakti yang berlangsung penuh kehangatan. Mulai dari pembersihan badan jalan, pengecoran, hingga perataan dilakukan bersama-sama—menghidupkan kembali nilai luhur persaudaraan yang menjadi akar budaya Tanah Karo.
Daut Tarigan, Kepala Desa Barusjahe, menyampaikan bahwa inisiatif ini muncul dari keresahan yang sama. “Kami tidak ingin masyarakat terus menunggu. Ini bukan soal anggaran, tapi soal hadirnya pemimpin di tengah kesulitan rakyat,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).
Hal senada disampaikan Dastanta Barus. Ia menegaskan bahwa akses jalan yang memadai adalah hak dasar warga. “Kalau jalan baik, hasil pertanian bisa cepat sampai ke pasar, biaya angkut turun. Itu dampak langsung ke kesejahteraan,” tegasnya.
Sementara itu, Rion Ginting yang juga menjabat Camat Barusjahe, tak hanya ikut menyumbang dana pribadi, tetapi juga turun langsung memantau dan mengawal pengerjaan di lapangan. Ia menilai kolaborasi lintas desa ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak selalu menunggu proyek besar, melainkan bisa dimulai dari niat kecil yang dilakukan bersama.
“Semangat ini harus kita rawat. Solidaritas seperti inilah yang akan memperkuat Barusjahe ke depan,” ucapnya.
Warga pun menyambut hangat langkah nyata para kepala desa. Bagi mereka, jalan yang mulus bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga harga diri kampung. Tak heran, di sela-sela aktivitas harian, puluhan warga bergantian mengambil peran—ada yang membawa makanan ringan untuk pekerja, ada pula yang menyiapkan peralatan sederhana.
Lewat aksi nyata yang sederhana namun bermakna besar ini, ketiga desa menunjukkan bahwa pemimpin tak melulu bicara program, tapi mampu menjadi penggerak. Jalan sepanjang ruas penghubung itu kini perlahan berbenah—bukan hanya dari aspal dan beton, tapi dari ketulusan dan gotong royong yang kembali menyala.(red/rempulima.com)







